Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Download

 
Jumat, 02 September 2011

MUDIK: SEBUAH DIMENSI SPIRITUAL

Salah satu fenomena yang menarik untuk diamati sebelum, pada saat, atau pasca Lebaran adalah soal mudik, pulang kampung, atau apa pun namanya. Bagaimana tidak menarik, kemacetan lalu lintas, melonjaknya ongkos angkutan, dan susah payahnya memperoleh tempat yang nyaman di kendaraan, tampaknya tidak membuat orang kapok untuk mudik. Mudik memiliki daya magnet yang cukup kuat bagi orang yang menjalaninya. Susah payahnya mudik seakan cukup dimaklumi dan dinikmati, bahkan terkesan bukan mudik kalau tidak ada ciri-ciri di atas.


Mengapa demikian ?

Jawabannya sebenarnya sederhana, yaitu ada kerinduan untuk berkumpul dengan orang tua, paman-bibi, seluruh kerabat, dan tak terkecuali teman-teman lama semasa kecil di kampung halaman. Kerinduan tersebut ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, karena orang tua dan kerabat pun sama-sama menantikan peristiwa tersebut di hari-hari yang membahagiakan, Hari Raya Fitri.


Secara hukum agama, mudik dapat diartikan silaturahim, menyambung tali yang putus, karena terhalang oleh jarak atau kesibukan. Nabi SAW pernah melukiskan dalam sebuah hadist,”ketika seseorang keluar rumah untuk menjumpai saudaranya, maka Allah memerintahkan malaikat menanyakan tujuan kepergiannya itu. Orang itu menjawab bahwa yang menghantarkannya keluar rumah adalah karena kecintaannya kepada saudaranya itu. Malaikat bertanya,”apakah kamu membawa “sesuatu”(oleh-oleh) untuk diberikan kepada saudaramu?” Ia menjawab tidak, tetapi semata-mata karena cintanya kepada saudaranya karena Allah. Malaikat itu berkata (lagi),”Aku diutus oleh Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana cintamu kepada saudaramu.”(HR Muslim). Dari hadist ini tampak jelas bahwa setiap pemudik diimbau untuk membawa buah tangan untuk kaum kerabatnya, terutama bagi orang tuanya.

Pertemuan orang tua dengan anak cucu, serta menantu, merupakan peristiwa yang membahagiakan. Isak tangis dan keharuan ketika sungkem dengan orang-orang yang dicintai di hari itu sulit dilukiskan dengan tulisan atau kata-kata. Meski ada keluarga yang tidak lengkap, karena kedua orang tua telah mendahului pergi ke alam baka, tidak mengurangi kekhusyuan peristiwa itu.


Dari peristiwa itu, mari kita layangkan perhatian kita kepada QS Al-Thur:21 yang berbunyi:”Dan orang-orang yang beriman, lalu keimanannya diikuti oleh anak cucu mereka, maka Kami pertemukan orang yang beriman itu dengan mereka (anak-anak dan cucu) tanpa mengurangi amalnya masing-masing”. Ibnu Abbas –ketika mengomentari ayat ini –berkata:”Seorang ahli syurga apabila masuk syurga, maka ia bertanya tentang keberadaan kedua orang tuanya, isterinya, dan anak-anaknya. Ketika diberitahu bahwa tempat mereka tidak setingkat dengan amalanya, maka dia bermohon kepada Allah. Akhirnya, Allah memerintahkan (malaikat) untuk mempertemukan mereka dengan dirinya.” Alangkah suka rianya mereka yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan seluruh keluarganya yang seiman di tempat yang dimuliakan Allah. Sebaliknya, betapa sedihnya orang tua manakala ada salah seorang putera atau cucunya yang tidak sempat hadir dan bertemu dengan keluarganya lantaran tidak seiman, bahkan berada di tempat yang jauh dari rahmat-Nya.


Penulis hanya ingin berpesan kepada yang akan mudik: selamat mudik dan dapat berkumpul dengan orang tua, kerabat, dan orang yang dicintai. Kalau mungkin, bawalah “buah tangan” untuk mereka sebagai bentuk syukur atas anugerah rizki yang Anda peroleh selama berusaha di kota dan berbagi kebahagiaan. Kemudian renungkan pertemuan yang membahagiakan itu untuk diproyeksikan ke masa depan (akhirat) agar kebahagiaan itu terus berlangsung hingga di akhirat.

Wallahu a’alam

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger

Updates Via E-Mail